Jika mimpiku jadi kenyataan
Yang kuimpikan di negeri ini (mustahil nggak yak ?) :
- Sekolah dari TK sampai Perguruan Tinggi Gratis
- Dibangun perpustakaan umum tiap desa yang dapat melayani pengunjung 24 jam
- Dibangun Rumah Sakit yang gratis melayani masyarakat 24 jam.
- Dibangun infrastruktur jalan sampai ke desa2 terpencil dengan kualitas hotmix nomor satu.
- Disediakan angkutan umum yang layak dengan tarif sangat murah.
- Para pemimpin dari tingkat RT-Presiden yang amanah, pejabat2 yang ikhlas mengayomi rakyat.
- Tidak ada satupun pengangguran di negeri ini.
- Eksploitasi Sumber Daya Alam yang terencana buat kemakmuran rakyat serta tidak membiarkannya dirampok oleh Rakyatnya sendiri maupun Orang Asing.
- Rakyat semua merasa tenang mencari nafkah, tenang ibadah dan saling peduli antar sesama.
- Negeri ini menjadi negeri yang maju, baik dari segi peradaban maupun segi IPTEK sehingga menjadi terhormat dima ta Dunia maupun dimata Tuhan.
Ah... kok banyak yah mimpi2 ku...? Izinkan aku bermimpi lagi...!
Penipuan gaya Klasik diulang-ulang, Basi Tau !
Tadi pagi, aku masuk ke ruang ATM salah satu bank tempat uang bulanan singgah sementara *sebelum saldo nol
...*. Di samping ATM aku lihat banyak tumpukan pamflet, penasaran terus aku ambil dan langsung dimasukkan ke saku jaket. Tiba dikantor, pamflet tadi kubuka. Hmh...menarik judulnya. Kira2 isi ringkasnya mirip dengan e-mail sampah yang sering masuk ke akun e-mail-ku dengan urutan kurang lebih sbb :
- Sebuah metode arisan yang berlandaskan kejujuran dan kebersamaan.
- Anda harus mentransfer sejumlah uang ke rekening 3 orang yang sudah diurutkan (tidak boleh dirubah urutannya) dalam waktu yang berdekatan.
- Setelah selesai, maka Anda berhak mencantumkan Nama dan Nomor Rekening kita di urutan ketiga, dengan menghapus nama dan no. rek urutan pertama.
- Anda berhak memperbanyak pamflet yang sudah diurutkan tersebut, untuk kemudian dibagikan ke tempat2 umum dan mesin2 ATM bank tertentu.
- Anda tinggal bersiap2 menikmati ratusan juta uang yang masuk ke rekening Anda sambil ongkang2 kaki tanpa kerja keras sedikitpun.
Mungkin bagi sebagian orang yang terjebak (baca : tertipu) dengan pamflet2 kayak begini mengaggap iseng2 berhadiah saja, karena uang yang ditransfer berkisar antara Rp. 10.000 dikalikan 3, atau sekitar Rp. 30.000. Kebetulan pamflet yang aku temui uang yang mesti ditransfer senilai Rp. 20.000/rekening , jadi total sebanyak Rp. 60.000. Baga sebagian orang mungkin nilai ini tidak seberapa. Namun menurut aku, konyol sekali kalau orang mengganggap dengan mengeluarkan uang segitu, terus berharap ratusan juta bahkan milyaran uang masuk ke rekeningnya. Sungguh sudah tidak waras orang2 yang masih menggunakan kesulitan ekonomi di negeri ini dengan mengakali penipuan2 basi kayak begini...!
Sepenggal kisah
Masih teringat sepenggal pembicaraan dengan temanku yang telah lama berpisah. Dia teman SD-ku dulu, kami bertemu di sebuah swalayan saat aku membeli keperluan sehari2. Di awal pembicaraan, dia banyak bercerita tentang kesuksesan menurut versi dia, tentang liku2 perjuangan hidup sampai dia bisa sesukses sekarang *katanya*. Aku hanya mengangguk2 bak kerbau dicocok hidung. Dia bercerita banyak, dia kenal dengan orang besar, modal dia pun bukan skill yang baik serta pendidikan yang tinggi, namun hanya modal luwes dalam bergaul aja serta sedikit aktif di berbagai LSM dan partai. " Jadi bisa masuk ke semua kalangan, termasuk pejabat sekalipun..!" katanya bangga. "Sekolah tinggi2 gak penting Man..!" begitu dia bilang. "Nih buktinya gw bisa kaya gini..!" ujar dia sambil menepuk dada. " Eh kalo lo punya sodara yang mau kerja di pemerintahan ato lo mau bikin usaha apa aja kontak gw aja, gw bisa aturin semuanya. Mulai dari perizinan sampai ke link2 kemana lo mesti masuk, gw tau channelnya. Tinggal lo siapin aja pelicinnya, nanti gw yang urus.Lo tau kan maksudnya ? " kata dia makin pede dengan gayanya.
Aku Muak. Aku masih terdiam dengan gaya pura2 terkesima dengan omongan dia.
" Eh, lo ada telp yang bisa dihubungi, gak ? Nanti gw call lo yah ! Sorry ge buru2 nih, soalnya mesti ketemu client..he ..he !" begitu dia bilang saat ada telp yang masuk di hp-nya. " Oh, ada. Nih **** **** ***.." kataku. " OK, thanks. sampai ketemu ya. " Nanti gw main ke rumah lo..!" kata dia sambil bergegas menuju mobilnya. Tampak sopir pribadinya sudah membukakan pintu untuknya. Dia melambaikan tangan sambil memasang kacamata hitam di matanya. Aku tersenyum, senyum hampa dan bingung. " Tidak....aku tidak bermimpi.Ini nyata...! Ah, sudah....biarkanlah, itu kan dia, bukan aku.!
Pak, jawab dong !
- Pak, kok mahal ya biaya sekolah, katanya gratis ?
- Pak, kok rumit ya birokrasi ini, ngurus KTP ama KK aja kok susah ?
- Pak, kok banyak sekali korupsi di negeri ini, emang sudah jadi budaya ya ?
- Pak, kok banyak pejabat bergelimang harta, emang gajinya berapa ?
- Pak, kok banyak PKL yang digusur, katanya banyak pengangguran ?
- Pak, kok banyak mobil mewah di jalan, katanya rakyat kita miskin ?
- Pak, kok banyak yang maling duit negera, kenapa dibiarin ya ?
- Pak, kok negeri kami tak ubahnya rimba, emang hukum rimba berlaku buat negeri ini ya ?
- Pak, masih banyak pertanyaan kami, nanti diterusin ya !
Tak seharusnya Kamu Sombong !
Tatapan tajam matamu membuatku salah tingkah. Kamu memandangku seperti aneh dan jijik. Aku hanya bisa menunduk. Memang bajuku lusuh, aku pun hanya bersendal jepit, beda denganmu yang berbaju perlente dan bersepatu mengkilat. Tapi tak seharusnya kamu memandangku begitu. Aku menunduk bukan karena malu sama dirimu, tapi aku tahu diri. Aku tak mau berurusan denganmu hanya karena salah paham. Aku memilih diam. Tapi, kamu tampak makin angkuh. Berulang kali memandangku sambil bersandar di mobil mewahmu. Aku diam karena aku sedang menunggu temanku, bukan ingin bertemu denganmu. Begitukah cara kamu membawa hartamu ? tak tahukah bahwa hartamu merupakan amanat yang sangat berat buatmu ? Jadi, tak seharusnya kamu sombong seperti itu ! Aku hanya mengingatkanmu ! Camkan itu ! *Dangdut MODe ON*
